Kebaikan

Kebaikan bukan untuk ditunjukkan, tapi dilakukan. Kebaikan yang ditunjukkan tidak lagi baik, karena sarat dengan tendensi tertentu. Jika kebaikan sudah tak lagi baik, apa masih layak disebut ‘kebaikan’?
Memang masih akan tampak baik, tetapi hakikatnya telah berubah menjadi sebuah keburukan bagi pelakunya. Lebih khusus tidak baik bagi hati yang sedang belajar tentang tawadhu’, qana’ah, dan tawakkal.
Bagaimana dengan dalih menunjukkan kebaikan agar ditiru oleh orang lain?
Ah, itu pasti suara dari nafsu yang tersamarkan. Nafsu yang dikekang supaya tidak liar dan buas dengan bentuk keburukan pastinya akan menyusup dalam bentuk kebaikan, ia berubah menjadi bara api kehancuran dalam sekam kebaikan. Tungkunya, ya hati itu sendiri.

Curhatku padamu; bapak:ibu

Sejak kuhembuskan nafas pertamaku, kau ajari aku tentang nilai kepasrahan dan tanggung jawab lewat senandung adzan dan iqomahmu bapak, terima kasih…
Sejak kumenangis pertama kali kau ajari aku nilai cinta dan berbagi dengan dekapan dan kecupanmu ibu, terima kasih…

Aku selalu mengenang dan mengingatnya lewat cerita dan petuah yang kalian sampaikan padaku, bahkan kalian mengukuhkannya dengan mengantarku tuk berguru, terima kasih…

Dalam fajar perjalanan hidupku ini, aku selalu memegang kukuh ajaran itu bapak-ibu, meski aku tak selalu menceritakannya pada kalian, terima kasih kalian senantiasa mengingatkan hal itu selalu…

Namun, ada saat-saat orang lain mengujiku bapak-ibu, tak hanya sekadar berusaha membuatku lupa pada ajaran kalian yang dahulu, tapi lebih sadis berusaha memangkasnya hingga membuatku menjadi pribadi lain yang akupun hampir tak mengenalinya. Apa yang harus kupilih bapak-ibu?

Ah… Aku pasti tahu apa jawabnya, karena aku anak kalian…

Namun, biarkan aku memilih jawaban kalian yang lain, yang takkan pernah terucap dari bibir kesabaran kalian, aku telah memilihnya bapak-ibu, aku yakin kalian mengerti karena aku anak kalian…

kala kesabaran berdiam terus terusik, maka “pedang” perlu dipakai tuk membungkam!

Maaf ini pilihanku bapak-ibu, aku yakin kalian akan mengamini dalam bingkai doamu.

Kaulah Bidaari Itu

mengiringi dekapan samudra pada sang surya,

kau hadir berbingkai cakrawala,

indah bertahtahkan mega;

senja…

dalam ruang anganku,

tumbuh ribuan rupa kembang,

indah menjelma taman;

cinta…

namun apalah arti semua itu tanpa hadirmu???

kaulah bidadari itu yang tercipta dari suar senja,

kaulah bidadari itu yang tercipta dengan harum cinta,

kaulah bidadari itu…..

yang selalu ku tunggu tuk menemaniku kala senja sambil menikmati sepotong cinta di sudut taman hatiku.

Kategori:Puisi Tag:, , , , ,

Tak Ada Makhluk Yang Terlahir Dalam Kesendirian

10/04/2015 4 komentar

Dikala langit tampak semakin kusam dan kelabu, ingatlah adikku! Di sana masih ada mentari yang selalu menyinari meski semburat cahaya dan kehangatannya tertahan mendung.
Dikala tubuh terasa semakin dingin dan kaku, percayalah adikku! Di sana masih ada hati yang selalu berbagi kasih dan sayang yang hangat meski terhalang oleh jarak.
Dikala langkah kaki terasa semakin berat dan terseok, yakinlah adikku! Di sana ada tangan-tangan yang siap menuntun & membimbing meski tarpisah oleh waktu.
Tak ada makhluk yang terlahir dalam kesendirian!
Bahkan Adam pun di sandingkan dengan Malaikat sebagai karib dan Iblis sebagai musuh, hingga tercipta Hawa tuk berbagi kasih dan cerita.
Terbentuklah keluarga.
Itulah karunia…
Tak ada kata maaf dalam keluarga harusnya, yang harus ada adalah saling memaafkan.
Ingatlah hal ini adikku!
Mentari, hati, dan tangan-tangan itu adalah sedikit dari bentuk jelmaan keluargamu.
Tak ada makhluk yang terlahir dalam kesendirian!

Jakarta, 10 April 2015

Kategori:Kataku

Biarkan

Biarkan rasa sakitmu teredam dalam gelak tawa, sebab ia adalah persembunyian yang riang meski terkadang gaduhnya menambah haru biru luka. Biarkan rasa sakitmu terpasung bisu, sebab ia adalah persembunyian yang sunyi meski terkadang sepinya menambah perih luka. Biarkan…. Biarkanlah….

Kategori:Kataku, Puisi, Renungan

Sejenak

Biarkan aku merenung sejenak, semoga saja bisa merayu bijak tuk kusampaikan, atau paling tidak aku bisa diam mendengarkan.
Namun apa yang kau lakukan??

Kategori:Kataku, Puisi, Renungan

Hari Kemenangan Katanya

Hari kemenangan telah tiba katanya
Tapi apakah kita pemenang sesungguhnya?
Apakah kita telah menang melawan ego kita sehingga kita berani dengan lantang mengucapkan “maafkan aku”? Bukannya astaghfirullāhal-‘adzīm
Apakah kita telah menang melawan hawa nafsu hanya dengan sebulan memenjarakannya dalam neraka lapar dan dahaga?
Atau sejatinya kita masih pribadi yang sama yang hanya bisa “berdamai” sementara dengan ego dan nafsu di hari kemenangan ini?
Jika demikian kita betarti merayakan kemenangan semu belaka
Allāhu Akbar… Allāhu Akbar… Allāhu Akbar… Wa lillāhilhamd
Semoga luruh seluruh ego dan nafsu kita dalam kebesaran-Nya.

Kategori:Kataku Tag:, , , ,