Beranda > Agama > Inikah Tujuan Hidup Itu?

Inikah Tujuan Hidup Itu?

Pernah ada seorang sahabat bertanya padaku “apa sebenarnya tujuan hidup kita?”. Aku tidak langsung menjawabnya, sebab dia bertanya bukan karena menganggap aku tahu jawabannya, aku seperti halnya dia yang juga tadak tahu dengan pasti apa jawabnya.

Akhirnya aku mencoba membongkar kembali buku-buku yang telah aku simpan rapi dalam kardus, seakan takut ada yang mencuri informasi dari dalamnya. Namun setelah aku membaca beberapa buku, dari yang bertema sosial, agama, kenegaraan, bahkan sampai buku-buku sufi, aku semakin tidak memiliki jawaban pasti atas pertanyaan yang sekilas tampak sederhana tersebut. Akhirnya aku lari ke seorang Guru Spiritual.

Dialog demi dialogpun terjadi, sebegitu ketatnya sang Guru menjaga imanku selama dialog tersebut (sebab aku mulai dianggapnya berdiri di antara jurang kekufuran sambil bergelayut pada ranting kesombongan dan kebodohan), dan pada akhirnya aku mengambil kesimpulan, Allah, itulah tujuan hidup kita sebenarnya.

Aku menemui sahabat yang pernah bertanya padaku dulu tentang tujuan hidup sebenarnya. Aku menemuinya bukan untuk mengguruinya, tapi sekadar ingin bercerita dan menanyakan apakah dia juga sudah punya jawaban atas pertanyaannya yang dulu. Dan benar saja, dari obrolan ngalor-ngidul kami di sebuah warung kopi biasa kita ketemu, aku tahu bahwa sahabatku tersebut juga sudah memiliki jawaban.

Akhirnya aku mengawali pembicaraan yang “semi serius” tentang tujuan kehidupan dengan melontarkan pertanyaan kepadanya, “menurutmu kemana takdir menggiring kita?”. Dengan mantap dia menjawab “pada kematian, sebab kita sebenarnya sekarang sudah berjalan menuju kematian itu, bahkan jauh sebelum kita menyadarinya, jauh sebelum kita diciptakan”.

Aku terperanjat mendengar jawaban itu, namun pura-pura biasa saja. “pada kematian” gumamku. Terjadi perkelahian sengit dipikiranku, sebab yang aku dapatkan dari seorang Guru Spiritual adalah Allah, sedangkan dari mulut sahabatku keluar kata “pada kematian”. Sangking sibuknya aku berpikir tanpa kusadari keningku berkernyit, sahabatku dari tadi diam-diam memperhatikanku, “kenapa? Masih memikirkan kata-kataku barusan?” tanyanya.

“iya, aku cuma tidak habis pikir saja kenapa kamu mengatakan kalau takdir sedang menggiring kita pada kematian, bahkan jauh hari sebelum kita diciptakan?! Bukannya kita hidup ini semata-mata mencari ridlo-Nya, dengan kata lain Allah adalah satu-satunya tujuan hidup kita, yang sifat wujud-Nya menjadi sebab terciptaannya kita?, jadi pengabdian kepada-Nya merupakan satu-satunya bentuk syukur atas semua itu” jawabku, aku mencoba menawarkan opsi lain seperti yang aku dapatkan dari Guru Spiritual, dan aku mulai berjaga-jaga khawatir obrolan kita justru membawa kita pada jurang kekufuran yang lain karena kesombongan dan kebodohan kita.

“kamu kok lucu, kamu berarti belum memahami Allah” jawab dia enteng.

“sebentar, apa maksudmu aku belum memahami Allah?” aku tersinggung, sebab dibandingkan dia aku lebih tekun dalam hal ibadah, bahkan aku melakukan beberapa wirid yang menjadi rutinitas malamku. Sebenarnya dia tidak salah mengatakan itu, sebab aku memang tidak tahu apa-apa tentang Allah. Sebab Allah adalah realitas kosmos yang takkan sanggup diungkap oleh manusia secara keseluruhan, jikalau ada keterangan tentang Allah, itu semata-mata terbatas pada Asmaa’ (nama) Aushof (sifat) dan Af’al (perbuatan)-Nya saja, semua itu karena Allah Maha Sempurna, sedangkan manusia hanya salah satu makhluk ciptaan-Nya yang tidak memliki kemampuan apapun tanpa anugrah dan kasih-sayang-Nya.

“relasi Allah dan kematian yang aku maksud, makanya jangan tersinggung dulu” jawabnya sambil tersenyum, dia melanjutkan, “Allah itu Maha Sempurna dengan Asmaa’, Aushof dan Af’al-Nya, selain-Nya adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan Dia, itu pada awalnya. Allah menciptakan makhluk pertama yang dikenal dengan sebutan Nur Muhammad di alam azali (alam sebelum diciptakannya waktu) yang kemudian menjadi penyebab penciptaan makhluk-makhluk lain, Malaikat, Iblis, alam semesta bahkan manusia. Dengan kata lain sebab Nur Muhammad, maka Allah menciptakan Makhluk lain. Allah sebagai Al-kholiq (Pencipta) memiliki sifa Maha Sempurna, sedangkan selain Allah adalah makhluq (yang diciptakan) memiliki sifat Dhoif (lemah) dan fakir (butuh). Jadi semua makhluk membutuhkan sesuatu yang lain untuk menjaga kelangsungan hidupnya, baik berupa material maupun immaterial (spiritual)”.

“oleh sebab itu, seluruh makhluk memerlukan ruang dan waktu, hal ini karena sifat dasar Dhoif (lemah) dan fakir (butuh) tersebut, bahkan selain ruang dan waktu, makhluk masih membutuhkan hal lain sesuai dengan bentuk dan fungsi penciptaannya. Masih ingatkan bagaimana manusia pertama, Adam diciptakan? Setelah maujud dia membutuhkan ruang dan waktu, surga pada mulanya, setelah itu membutuhkan hal lain yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut Al-Asma Kullah (pengetahuan tentang segala hal), yang kemudian berkembang menjadi bahasa, dan ia masih membutuhkan pendamping, sehingga diciptakanlah Hawa. Semua itu adalah bukti bahwa manusia (makhluk pada umumnya) membutuhkan sesuatu selain dirinya”.

“aku tidak akan berbicara jauh tentang penciptaan, langsung saja bagaimana setelah Adam dan Hawa di bumi, mereka membutuhkan sarana untuk kelangsungan hidup mereka, makan, minum, rumah dan sebagainya. Namun di balik kebutuhan yang sifatnya material, manusia masih membutuhkan sesuatu yang lain, yaitu spiritual. Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang mengetahui tentang sebagian hal yang berhubungan langsung dengan asal-usul penciptaan sadar bahwa di balik kebutuhan-kebutuhan itu, mereka membutuhkan sesuatu yang sempurna, sesuatu yang abadi, yang menciptakan segala kebutuhan dan mampu memenuhi segala kebutuhan tersebut, yakni Allah Sang Khaliq”.

“oleh karena itu, anak keturunan mereka (manusia) juga mewarisi sifat yang sama, membutuhkan sarana materi dan spiritual. Oleh karena kesadaran tersebut, Allah selalu mengutus rasul-Nya pada setiap masa supaya tata cara mereka mengungkapkan rasa butuh mereka terhadap Allah tidak menyimpang”.

“toh ujung dari semua perjalanan spiritual itu adalah Allah, seperti yang kamu bilang tadi. Allah adalah Dzat yang maha Perkasa, Dia tidak terikat dengan ruang dan waktu, namun kita (manusia) adalah makhluk yang lemah, dan terperangkap dalam jasad yang memiliki ikatan secara langsung dengan ruang dan waktu, sebab tempat kita berada sekarang ini merupakan kuantum waktu”.

“makanya aku tadi bilang, kalau takdir sedang menggiring kita pada kematian, dengan kata lain kematian itu adalah gerbang menuju alam yang tak terbatas, alam yang tak mengenal waktu, alam ini hanya memiliki ruang, sebab makhluk takkan bisa berada pada alam yang tak memiliki ruang, hal ini disebabkan oleh kelemahan dan substansi makhluk yang kasar”.

“di alam inilah kita memiliki peluang berjumpa dengan Dia”, aku seakan terhipnotis dengan penjelasan dia yang beruntun, namun aku mulai mengerti apa yang disampaikannya. “ketemu dengan Dia atau tidak kan tergantung amal kita” aku mencoba menambahkan. “tidak semuanya” jawab dia tegas. “apa maksudmu?” aku bingung dengan kata terakhir dia.

“ketemu dengan Dia atau tidak mutlak sesuai dengan kehendak-Nya. Amal kita sekarang ini merupakan perwujudan syukur kita pada-Nya karena telah menciptakan kita, seperti yang kamu bilang tadi. Oleh sebab itu, kita harus selalu berupaya lain di luar itu yang dapat mengantarkan kita pada-Nya, hal ini banyak dilakukan oleh As-Salaaf Ash-Sholih, ini juga yang meresahkan aku saat ini” dia mengakhiri pembicaraannya dengan suara berat seperti sedang menahan tangis.

“apa maksudmu meresahkan aku saat ini?” aku bertanya menyelidik. “aku ingin sekali mengikuti jejak para As-Salaaf Ash-Sholih, namun aku masih belum bisa mengalahkan nafsuku, apalagi untuk amalan yang sifatnya sunnah, yang wajib saja masih keteteran. Aku sadar aku salah, namun memperbaikinya terasa sangat sulit bagiku, ini alasan aku bertanya padamu dulu tentang tujuan hidup ini” dia menutup kata-katanya dengan diam sambil menerawang jauh, entah kemana. Akupun juga ikut merenung, namun entah tentang apa. “inikah tujuan hidup itu?” aku membatin. ***

  1. 04/05/2010 pukul 13:31

    assalamu’alaikum.. sulhan… link blognya udah dipasang jadi sahabatt rose, makasih yaa… ^^

    • 04/05/2010 pukul 15:12

      yo yoi…… makasih juga ^_^ ya kak rose…

  2. 07/05/2010 pukul 17:05

    salam kenal..

    blog nya sama.. hehe

    • 07/05/2010 pukul 20:39

      salam kenal juga ya….

      eh iya, aku td jenguk blog nya, ternyata sama……😀

  1. 25/01/2013 pukul 02:10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: