Beranda > Kataku > Mengharap

Mengharap

Di antara hamparan ilalang dan bukit, sepotong wajah menengadah menghadap langit. Murung sembari mengomat-ngamitkan bibir mungilnya.
Sepasang tangan kurus dan lemah ia julurkan, seakan ada sesuatu yang hendak digapai. Ia menusuk tajam-tajam apa yang hendak diraihnya itu dengan sorot matanya yang mulai sayu.
Berkali-kali ia mengulang hal itu, namun tak kunjung juga ia dapatkan, mungkin belum. Ada hal tersirat di sana. Pengorbanan dan keajegan yang teladan.
Angin tiba-tiba berlari, menerbangkan serakan dedaun yang sudah lama enggan menari, atau mungkin sudah lupa bagaimana caranya menari karena terlalu lama terlantar, terkulai.
Tak hanya itu, sungai yang sedari tadi tidur terlena dalam alunan gemericik kini mulai beriak, ia terjun kian gesit, membawa beberapa sisa daun dan ranting yang tak sempat ikut menari, ia terus berkelok dan menggeliat meski sesekali membentur batu-batu yang mematung menjalani takdirnya.
Kadang terbersit rasa ingin menjadi batu yang selalu tenang dan jauh dari ingar-bingar dan hiruk pikuk perjalanan hidup.

Pasuruan, 19 Agustus 2008

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: