Beranda > Kisah Mahjub > Mahjub dan Kawan Pengamennya

Mahjub dan Kawan Pengamennya

Berhari-hari Mahjub tampak sibuk membaca beberapa literatur tentang hakikat Tuhan, hal itu dia lakukan supaya ibadahnya bisa lebih khusyu’ dan bersungguh-sungguh, namun sampai saat ini dia masih belum menemukan apa yang dia harapkan.

Bertepatan dengan itu seorang kawannya datang ke rumahnya, terpaksa dia harus meninggalkan sejenak pencariannya dan ngobrol menemani kawannya tersebut, setelah beberapa waktu ngobrol, terpikir olehnya untuk sekadar bertanya kepada kawannya tentang hakikat Tuhan (dalam hati Mahjub tak terlalu berharap akan mendapatkan jawaban yang memuaskan, sebab temannya adalah seorang pengamen bis kota dan tak pernah mengenyam pendidikan formal dengan layak, hanya lulusan SD).

Namun tanpa diduga temannya menjawab dengan serius:
“Tuhan itu ibarat sebuah lagu, terdiri dari lirik dan aransemen; membuat lirik lagu yang baik dibutuhkan endapan-endapan emosi dan rasa, agar lirik itu memiliki kekuatan dan mudah diterima oleh pendengarnya. Begitu halnya dengan aransemen; olah cipta, rasa dan karsa sebagai pondasinya, bahkan kamu harus benar-benar paham betul tentang nada (mayor-minor) dan kunci-kuncinya sesuia alat musik yang kamu gunakan, barulah tercipta aransmen yang baik, berkarakter, dan pada akhirnya menghasilkan lagu yang indah”.

“bahkan untuk sekadar membawakan sebuah lagu -seperti ketika aku ngamen-, aku harus benar-benar menangkap pesan dalam lirik lagu yang aku bawakan supaya aku mendapatkan kekuatannya dan bisa menyampaikannya kepada orang lain, oleh sebab itu mutlak aku harus paham juga tentang nada dan sebagainya itu”.
Decak kagum keluar dari mulut Mahjub setelah mendengarkan pendapat kawannya tersebut, otaknya berputar keras memikirkan analogi-analogi tersebut, dia benar-benar tak menyangka kawannya akan bicara seperti itu.

“sudahlah… gak usah dipirin kata-kataku tadi, kalau kamu mau nyanyi, nyanyi aja gak usah mikirin lirik dan aransmennya, gak harus sempurna, toh setiap orang memiliki nadanya sendiri, kecuali kalo kamu mau jadi komposer” komentar kawannya membuyarkan usaha keras Mahjub memahami kata-kata kawannya sebelumnya.

Setelah kawannya pergi, Mahjub merapikan semua literatur yang dia baca, menata ulang pemikirannya, dan berkata dalam hatinya “belum waktunya aku berlayar, aku mesti belajar membaca arah angin dan melihat petunjuk bintang, bahkan bila perlu aku harus belajar membuat kapal”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: