Beranda > Kataku > Kebaikan

Kebaikan

Kebaikan bukan untuk ditunjukkan, tapi dilakukan. Kebaikan yang ditunjukkan tidak lagi baik, karena sarat dengan tendensi tertentu. Jika kebaikan sudah tak lagi baik, apa masih layak disebut ‘kebaikan’?
Memang masih akan tampak baik, tetapi hakikatnya telah berubah menjadi sebuah keburukan bagi pelakunya. Lebih khusus tidak baik bagi hati yang sedang belajar tentang tawadhu’, qana’ah, dan tawakkal.
Bagaimana dengan dalih menunjukkan kebaikan agar ditiru oleh orang lain?
Ah, itu pasti suara dari nafsu yang tersamarkan. Nafsu yang dikekang supaya tidak liar dan buas dengan bentuk keburukan pastinya akan menyusup dalam bentuk kebaikan, ia berubah menjadi bara api kehancuran dalam sekam kebaikan. Tungkunya, ya hati itu sendiri.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: